Halo Kamu, yang kelak akan menjadi kita, kutuliskan surat ini untukmu. Pada bagian ini akan kuceritakan beberapa tentangku sebelum saat ini. Tak bermaksud egois tapi memang kita belum saling tahu sampai hari ini, belum ada yang bisa kuceritakan tentangmu, selain pada diriku sendiri. Sebelum hari ini dan barangkali hari ini juga masih, aku hanyalah seorang anak-anak yang sedang belajar dan tumbuh menjadi dewasa. Sedang belajar mengambil keputusan dan memilih untuk diri sendiri. Sedang belajar untuk lebih bijak dan bertanggung jawab atas apa yang sudah kupilih sebelumnya. Kamu tenang saja, sejak satu dasawarsa lalu, sudah mantap kupilih untuk menahan rasa dan perasaanku lebih lama, hingga nanti bertemu jalan yang lebih serius. Denganmu tentu. Sebelum hari ini, di suatu masa hidupku, tentu pernah juga kurasakan debar yang tak biasa pada hatiku saat bertemu seseorang yang belum tentu kamu. Kusimpan saja debar itu pada kamar-kamar yang sepi. Pada kamar dengan doa dan harap yang dibentangkan...
Hari ini, kuceritakan sedikit padamu, aku baru saja selesai bergelut dengan tugas dan kuis untuk sementara. Setelah sebelumnya tugas datang silih berganti tiap harinya. Materi kuliah dengan beratus-ratus slide juga begitu. Dan jadwal rapat organisasi yang juga tak mau kalah minim. Agendaku cukup padat, sepertiga bahkan setengah waktuku diisi oleh agenda-agenda itu. Waktu untuk memikirkanmu tentu menjadi lebih sedikit. Tak apa, ini kulakukan juga untuk mempersiapkan pertemuan kita suatu hari nanti. Hari ini, tengah kuupayakan untuk menuntaskan diriku sendiri. Karena katanya untuk dapat menuntaskan diri dengan orang lain maka perlu tuntas dahulu dengan perkara diri sendiri. Tak hanya tuntas, tapi juga pantas. Proses pemantasan diri terus kulakukan. Karena mesti aku barangkali belum tahu kau siapa, tapi kupahami, kau berhak untuk menemukan aku yang baik. Kuyakin kau juga sedang melewati proses ini. Hari ini, barangkali aku belum bisa membayangkan akan menjadi seperti apa kita...