Langsung ke konten utama

The Source of Heartache


Jika kau merasa iri saat melihat foto temanmu yang baru promosi jabatan, atau menikah, atau punya anak, atau jalan-jalan ke luar negeri, atau punya mobil baru, yang salah bukan temanmu. Apakah ia merugikan waktumu? Apakah ia menghabiskan tenagamu?  Apakah ia menggunakan sepeser uangmu? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan berprasangka buruk soal niat temanmu. Kau anggap dia pencitraan, kau bilang ia pamer.
Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai syukur.
Jika kau merasa marah saat orang lain berbeda pendapat denganmu, memilih pilihan yang berlainan denganmu, yang patut dimarahi bukan dia. Apakah ia menghalangimu untuk berpendapat? Apakah ia memaksamu mengikuti pilihannya? Jangan menambah kotor hati dengan menciptakan jarak kebencian dengannya. Kau labeli ia sebagai musuh, kau sebut ia bukan saudara.
Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai toleransi.
Jika kau merasa kecewa saat tidak ada yang memuji dan menghargai kebaikanmu, yang menurutmu sudah benar, yang salah bukan mereka. Apakah mereka mencegahmu berbuat baik? Jangan menambah kotor hati dengan menyemai benih harapan pada balasan manusia.
Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai ketulusan. 
Semakin ku merenungi, semakin aku menyadari. Bahwa kebanyakan–hampir seluruhnya–dari penyakit hati, sumbernya adalah masalah diri yang belum menyelesaikan urusannya dengan ego pribadi. Belum bisa meredakan ‘keakuan.’ Yang darinya lahir sebuah dunia tak kasat mata, di dalamnya si ‘aku’ menjadi sentral, yang harus diutamakan, yang harus didahulukan, yang harus diistimewakan. Membuat diri seolah-olah kuat di luar, padahal rapuh di dalamnya.
Maha Suci Allah, yang suci dari kelemahan hamba-Nya. 
Pesan ini pertama sekali kutujukan untuk diriku sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ITB dan Sebagian Diri yang Terakui (Repost)

Ini tulisan kak  Nur Novilina , hehehe :v izin repost ya kak di blog aku :v Aku kalo lagi gk semangat baca tulisan ini, sangat memotivasi loh.. Ayo dibaca juga ya readers sampai habis.  Ingat! sampai habis Beberapa hari yang lalu temen baik gue, sahabat gue, si Dinul nge-chat gue “Eh boy gue kangen deh sama tulisan-tulisan cangak lu, jadi kemarin gue baca-baca lagi, parah kocak banget. Nulis lagi dong lu buruan”  That’s words really heal me from every stress that I got in my life . Sekalipun kadang gue merasa dengan banyaknya permintaan menulis hal konyol gue punya side job jadi sulap badut.  Sebenernya gue udah lama pengen nulis hal-hal konyol lagi tapi gue takut ga puas sama hasilnya jadi ketunda mulu sampai kemarin gue baca kata-kata bagus banget dari redaktur eksekutif majalah Tempo, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah dituliskan”  so, let try to show your imperfection ! Tulisan kali ini gue mau cerita tentang kehidupan baru ...

Kali Ini

Kali ini aku akan bercerita, mengenai seseorang yang memperjuangkanmu dalam diam. Dia menerbitkan cahaya rindu setiap pagi, untuk memastikan tak ada sisi yang termakan oleh gelapnya sepi. Dan senyummu, adalah penggerak romansa hatinya, tanpa perlu tambahan kafein untuk meningkatkan detak pada tiap detiknya.  Apakah kau menyadari? Aku yakin tidak. Kali ini aku juga akan bercerita, mengenai seseorang yang merawat rasa untukmu sendirian. Dia merangkai simfoni rindu setiap siang, untuk mengalahkan nada sumbang hampanya hari. Dan tawamu, adalah nyanyian terindah yang pernah didengarnya, tak bisa ia hentikan karena terus terngiang pada relungnya.  Apakah kau mengetahui? Sepertinya tidak. Kali ini pun aku akan bercerita, mengenai seseorang yang memelihara asa padamu dalam kelam. Dia menyatukan kepingan angan setiap malam, untuk menerangi tiap sudut kisah yang olehmu tak pernah terfikirkan. Dan tatapmu, adalah refleksi terbaik dari sebuah harapan, tak pernah ia lupa akan rasa dari ...

See You When I See You

Sedikit ku ingat wajahmu yang semakin hari semakin menghilang. Rekaman suaramu pun seperti hanya tinggal kenangan.  Meski begitu, namamu selalu mengganggu pikiranku di saat malam. Kadang hati ini memaksaku melihat sosial mediamu.  Entahlah, aku bingung bagaimana caranya mengobati rasa rindu. Rasa rindu yang sebenarnya tak memiliki tempat untuk bersandar. Jujur, aku sangat merindukanmu. Kerinduan ini bahkan telah memaksaku untuk mencari tahu tentangmu.  Dan selalu saja bayangmu menghantuiku, memori yang terekam dalam otakku, memberikan tanda bahwa kamu memiliki ruang yang sangat spesial di hatiku.  Meski batinku menolak. Tapi bayangmu selalu saja seperti mengiyakan kerinduanku yang teramat dalam kepadamu. Aku tidak memiliki keberanian untuk sekedar menyapamu dari kejauhan.  Namun aku tahu diri, tentang dimana posisiku saat ini. Mungkin, memang tak ada lagi namaku dalam hatimu.  Aku juga sangat menyadari, kita bukanlah kita yang dulu. Masa itu sudah terle...