Halo Kamu, yang kelak akan menjadi kita, kutuliskan surat ini untukmu. Pada bagian ini akan kuceritakan beberapa tentangku sebelum saat ini. Tak bermaksud egois tapi memang kita belum saling tahu sampai hari ini, belum ada yang bisa kuceritakan tentangmu, selain pada diriku sendiri. Sebelum hari ini dan barangkali hari ini juga masih, aku hanyalah seorang anak-anak yang sedang belajar dan tumbuh menjadi dewasa. Sedang belajar mengambil keputusan dan memilih untuk diri sendiri. Sedang belajar untuk lebih bijak dan bertanggung jawab atas apa yang sudah kupilih sebelumnya. Kamu tenang saja, sejak satu dasawarsa lalu, sudah mantap kupilih untuk menahan rasa dan perasaanku lebih lama, hingga nanti bertemu jalan yang lebih serius. Denganmu tentu. Sebelum hari ini, di suatu masa hidupku, tentu pernah juga kurasakan debar yang tak biasa pada hatiku saat bertemu seseorang yang belum tentu kamu. Kusimpan saja debar itu pada kamar-kamar yang sepi. Pada kamar dengan doa dan harap yang dibentangkan...
Terlihat sangat rapuh, namun sangat kuat, sangat indah, dan memiliki arti yang dalam. Kuat menentang angin, terbang tinggi dan menjelajah angkasa, dan akhirnya hinggap di suatu tempat untuk tumbuh menjadi kehidupan baru.