Langsung ke konten utama

Keep The Rythm

Halo Kamu, yang kelak akan menjadi kita, kutuliskan surat ini untukmu. Pada bagian ini akan kuceritakan beberapa tentangku sebelum saat ini. Tak bermaksud egois tapi memang kita belum saling tahu sampai hari ini, belum ada yang bisa kuceritakan tentangmu, selain pada diriku sendiri.

Sebelum hari ini dan barangkali hari ini juga masih, aku hanyalah seorang anak-anak yang sedang belajar dan tumbuh menjadi dewasa. Sedang belajar mengambil keputusan dan memilih untuk diri sendiri.
Sedang belajar untuk lebih bijak dan bertanggung jawab atas apa yang sudah kupilih sebelumnya.

Kamu tenang saja, sejak satu dasawarsa lalu, sudah mantap kupilih untuk menahan rasa dan perasaanku lebih lama, hingga nanti bertemu jalan yang lebih serius. Denganmu tentu.

Sebelum hari ini, di suatu masa hidupku, tentu pernah juga kurasakan debar yang tak biasa pada hatiku saat bertemu seseorang yang belum tentu kamu. Kusimpan saja debar itu pada kamar-kamar yang sepi.
Pada kamar dengan doa dan harap yang dibentangkan lebar-lebar. Jika itu kamu, semoga dilancarkan. Jika itu bukan kamu, semoga aku dapat tegar dan selalu memilih jalan kebaikan.

Sebelum hari ini, memang tak banyak waktu yang kuluangkan untukmu. Karena kupercaya, bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya. Mari kita siapkan saja diri kita, sampai suatu hari nanti, sama-sama kita temui waktu itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ITB dan Sebagian Diri yang Terakui (Repost)

Ini tulisan kak  Nur Novilina , hehehe :v izin repost ya kak di blog aku :v Aku kalo lagi gk semangat baca tulisan ini, sangat memotivasi loh.. Ayo dibaca juga ya readers sampai habis.  Ingat! sampai habis Beberapa hari yang lalu temen baik gue, sahabat gue, si Dinul nge-chat gue “Eh boy gue kangen deh sama tulisan-tulisan cangak lu, jadi kemarin gue baca-baca lagi, parah kocak banget. Nulis lagi dong lu buruan”  That’s words really heal me from every stress that I got in my life . Sekalipun kadang gue merasa dengan banyaknya permintaan menulis hal konyol gue punya side job jadi sulap badut.  Sebenernya gue udah lama pengen nulis hal-hal konyol lagi tapi gue takut ga puas sama hasilnya jadi ketunda mulu sampai kemarin gue baca kata-kata bagus banget dari redaktur eksekutif majalah Tempo, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah dituliskan”  so, let try to show your imperfection ! Tulisan kali ini gue mau cerita tentang kehidupan baru ...

Kali Ini

Kali ini aku akan bercerita, mengenai seseorang yang memperjuangkanmu dalam diam. Dia menerbitkan cahaya rindu setiap pagi, untuk memastikan tak ada sisi yang termakan oleh gelapnya sepi. Dan senyummu, adalah penggerak romansa hatinya, tanpa perlu tambahan kafein untuk meningkatkan detak pada tiap detiknya.  Apakah kau menyadari? Aku yakin tidak. Kali ini aku juga akan bercerita, mengenai seseorang yang merawat rasa untukmu sendirian. Dia merangkai simfoni rindu setiap siang, untuk mengalahkan nada sumbang hampanya hari. Dan tawamu, adalah nyanyian terindah yang pernah didengarnya, tak bisa ia hentikan karena terus terngiang pada relungnya.  Apakah kau mengetahui? Sepertinya tidak. Kali ini pun aku akan bercerita, mengenai seseorang yang memelihara asa padamu dalam kelam. Dia menyatukan kepingan angan setiap malam, untuk menerangi tiap sudut kisah yang olehmu tak pernah terfikirkan. Dan tatapmu, adalah refleksi terbaik dari sebuah harapan, tak pernah ia lupa akan rasa dari ...

See You When I See You

Sedikit ku ingat wajahmu yang semakin hari semakin menghilang. Rekaman suaramu pun seperti hanya tinggal kenangan.  Meski begitu, namamu selalu mengganggu pikiranku di saat malam. Kadang hati ini memaksaku melihat sosial mediamu.  Entahlah, aku bingung bagaimana caranya mengobati rasa rindu. Rasa rindu yang sebenarnya tak memiliki tempat untuk bersandar. Jujur, aku sangat merindukanmu. Kerinduan ini bahkan telah memaksaku untuk mencari tahu tentangmu.  Dan selalu saja bayangmu menghantuiku, memori yang terekam dalam otakku, memberikan tanda bahwa kamu memiliki ruang yang sangat spesial di hatiku.  Meski batinku menolak. Tapi bayangmu selalu saja seperti mengiyakan kerinduanku yang teramat dalam kepadamu. Aku tidak memiliki keberanian untuk sekedar menyapamu dari kejauhan.  Namun aku tahu diri, tentang dimana posisiku saat ini. Mungkin, memang tak ada lagi namaku dalam hatimu.  Aku juga sangat menyadari, kita bukanlah kita yang dulu. Masa itu sudah terle...