Langsung ke konten utama

Postingan

Silakan marah. Kamu manusia. Aku pun juga.

Silakan marah. Kamu manusia. Aku pun juga. Kamu punya perasaan.  Aku pun juga.  Kamu bisa sedih.  Sama. Hidup tidak semudah kalimat-kalimat bijak. Tapi kalimat-kalimat bijak bisa dijadikan penguat jalan hidup. Hidup tidak semudah omongan orang lain. Tapi omongan orang lain bisa dijadikan pelecut diri. Hari-hari akan terus berjalan. Tidak ada jaminan semua akan manis saja. Kehidupan nyata tak seperti gambaran pasangan mana pun di media sosial. Perjalanan dan orang-orang tahu, kita tidak membagi semuanya kepada mereka. Ambil yang baik, abaikan yang buruk. Tidak semua harus diterima, meski boleh didengar semuanya. Semua hal akan berubah nantinya.  Aku akan tua dan malas menulis hal yang cinta-cintaan lagi.  Mungkin akan berguru hal lain.  Entah. Di perjalanan yang masih jauh ini, atau mungkin sudah dekat: aku ingin kau dan aku saling menerima kita yang lemah, bukan kita yang indah saja.  Kita yang kurang, bukan kita yang menang saja.  Kita ma...

ITB dan Sebagian Diri yang Terakui (Repost)

Ini tulisan kak  Nur Novilina , hehehe :v izin repost ya kak di blog aku :v Aku kalo lagi gk semangat baca tulisan ini, sangat memotivasi loh.. Ayo dibaca juga ya readers sampai habis.  Ingat! sampai habis Beberapa hari yang lalu temen baik gue, sahabat gue, si Dinul nge-chat gue “Eh boy gue kangen deh sama tulisan-tulisan cangak lu, jadi kemarin gue baca-baca lagi, parah kocak banget. Nulis lagi dong lu buruan”  That’s words really heal me from every stress that I got in my life . Sekalipun kadang gue merasa dengan banyaknya permintaan menulis hal konyol gue punya side job jadi sulap badut.  Sebenernya gue udah lama pengen nulis hal-hal konyol lagi tapi gue takut ga puas sama hasilnya jadi ketunda mulu sampai kemarin gue baca kata-kata bagus banget dari redaktur eksekutif majalah Tempo, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah dituliskan”  so, let try to show your imperfection ! Tulisan kali ini gue mau cerita tentang kehidupan baru ...

Kali Ini

Kali ini aku akan bercerita, mengenai seseorang yang memperjuangkanmu dalam diam. Dia menerbitkan cahaya rindu setiap pagi, untuk memastikan tak ada sisi yang termakan oleh gelapnya sepi. Dan senyummu, adalah penggerak romansa hatinya, tanpa perlu tambahan kafein untuk meningkatkan detak pada tiap detiknya.  Apakah kau menyadari? Aku yakin tidak. Kali ini aku juga akan bercerita, mengenai seseorang yang merawat rasa untukmu sendirian. Dia merangkai simfoni rindu setiap siang, untuk mengalahkan nada sumbang hampanya hari. Dan tawamu, adalah nyanyian terindah yang pernah didengarnya, tak bisa ia hentikan karena terus terngiang pada relungnya.  Apakah kau mengetahui? Sepertinya tidak. Kali ini pun aku akan bercerita, mengenai seseorang yang memelihara asa padamu dalam kelam. Dia menyatukan kepingan angan setiap malam, untuk menerangi tiap sudut kisah yang olehmu tak pernah terfikirkan. Dan tatapmu, adalah refleksi terbaik dari sebuah harapan, tak pernah ia lupa akan rasa dari ...

Throwback

Ketika aku mengingat kembali momen-momen terendah dalam hidupku, kadang aku merasa kalau diriku itu bodoh dan kacau. Bahkan, dulu aku sempat bertanya kepada Tuhan: Mengapa aku selalu gagal? Apakah karena imanku kurang? Saat itu aku hanya berfokus pada kegagalan demi kegagalan. Aku berfokus pada impianku yang kandas hingga aku melupakan satu hal yang teramat penting: "Tuhan tetap berlaku baik. Kasih setia-Nya tidak berkesudahan dan rahmat-Nya tak pernah habis (Ratapan 3:22)." Ada banyak hal dalam kehidupan ini yang sulit dimengerti, termasuk mengapa Dia mengizinkanku mengalami banyak kegagalan, dan seolah membiarkan setiap impianku kandas. Tetapi, satu hal yang aku tahu dengan pasti bahwa Tuhan itu baik bukan hanya karena dia memberikanku kesuksesan, tetapi karena Dia memang baik. Tuhan mengasihiku bukan hanya karena Dia memberiku berkat, tetapi karena Dia adalah kasih. Seperti Ayub yang mengakui kebesaran Tuhan, aku pun yakin bahwa karena Dia adalah Tuhan yang Mahabes...

Repost : Ini Keluhan Perempuan Dungu, Jangan Kau Baca Nanti Kau Akan Sendu

Aku pernah menuliskan mimpi-mimpi masa depan dalam berlembar-lembar kertas, dan sekarang entah dengan istilah merangkak, terseok,aku sedang berjuang. Katamu aku manusia paling tabah, saat semua meninggalkanku, aku diam. Kau tahu aku bukan manusia tabah, aku sama sepertimu, sendiri kaku dalam drama yang kuperankan, sudah kubilang aku bukan manusia paling tabah, aku hanya menjalankan peranku,a ku tak memiliki pilihan, aku lelah mengeluhkan yang telah hilang, bukankah yang kulakukan sama seperti kalian. Katamu aku wanita yang tegar, saat kehilangan menyapa, aku pun diam, aku bukan manusia tegar, aku hanya mencoba tegar, karena berteriak marah pun aku akan tetap kehilangan. Bukankah itu takdirku? Lantas aku bisa apa selain diam sembari menguntai doa ke Sang Maha Punya. Aku pernah hilang arah, sebelum akhirnya kutemui jalan yang benar, aku pernah berantakan sebelum akhirnya kucoba belajar merapikan hidupku, akupun pernah liar sebelum akhirnya bisa kukendalikan diriku, aku juga pernah...

Hal yang Kulupakan Ketika Aku Asyik Menggunakan Instagram Story

Sekitar setahun lalu, Instagram menciptakan inovasi baru yang sangat digemari oleh para penggunanya hingga saat ini: Instagram Story—yang sering disingkat menjadi Instastory ataupun Snapgram. Melalui fitur ini, kepada  followers -nya, seseorang bisa membagikan gambar dan video yang dapat diedit terlebih dahulu secara  real-time  atau dalam waktu yang hampir bersamaan saat peristiwa tersebut terjadi. Awalnya, seperti kebanyakan teman-temanku, aku menikmati fitur Instastory dengan cukup aktif. Setiap harinya aku bisa mengunggah 1-5 konten pada Instastoryku. Namun, sampai di satu titik, aku memutuskan untuk berhenti menggunakan fitur ini hingga waktu yang tidak ditentukan. Alasan aku berhenti menggunakan Instastory bukanlah karena fitur ini salah. Akan tetapi, aku berhenti karena kelemahanku sendiri, yang mungkin juga merupakan kelemahan bagi banyak orang, yaitu  self-esteem , atau dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai “harga diri”. Jika ditilik lebih d...

Kelak, Someday... (tahapa)

Kelak, saat kau jauh dari rumah. Kau akan rindu suara cempreng ibu yang mengomelimu yang telat makan. Kau akan rindu petuah dan marah ayah saat kau lalai beribadah. Kau akan rindu suasana rumah yang tak pernah kau temukan di mana pun kau berada. Kau akan merindukan segalanya; adegan-adegan sedari kecil hingga kau tumbuh sampai pada tahap ini di sana. Waktu dan perasaan sudah dewasa mungkin akan membuatmu merasa hebat. Hidup dan perjalanan yang kau tempuh akan membuatmu merasa kuat. Tapi rindu orangtua mana yang bisa kau dapatkan di mata orang lain? Sedih orangtua mana yang bisa kau rasakan di pelukan orang lain? Tak ada satu tetes air pun yang persis sama dengan air yang dipanaskan ibu; meski dengan tungku api, meski dengan membakar daun kering. Asap-asap itu telah menjelma larut dalam darahmu. Kelak, saat semua perjalanan terasa semakin jauh. Saat tahap jenjang yang kau tempuh terasa semakin tinggi. Kau akan dihampiri perasaan aneh; kau merasa kau bukan siapa-siapa dan tak...