Kali ini aku akan bercerita, mengenai seseorang yang memperjuangkanmu dalam diam. Dia menerbitkan cahaya rindu setiap pagi, untuk memastikan tak ada sisi yang termakan oleh gelapnya sepi. Dan senyummu, adalah penggerak romansa hatinya, tanpa perlu tambahan kafein untuk meningkatkan detak pada tiap detiknya. Apakah kau menyadari? Aku yakin tidak.
Kali ini aku juga akan bercerita, mengenai seseorang yang merawat rasa untukmu sendirian. Dia merangkai simfoni rindu setiap siang, untuk mengalahkan nada sumbang hampanya hari. Dan tawamu, adalah nyanyian terindah yang pernah didengarnya, tak bisa ia hentikan karena terus terngiang pada relungnya. Apakah kau mengetahui? Sepertinya tidak.
Kali ini pun aku akan bercerita, mengenai seseorang yang memelihara asa padamu dalam kelam. Dia menyatukan kepingan angan setiap malam, untuk menerangi tiap sudut kisah yang olehmu tak pernah terfikirkan. Dan tatapmu, adalah refleksi terbaik dari sebuah harapan, tak pernah ia lupa akan rasa dari dua bola teduh yang menyamankan. Apakah kau memahami? Aku rasa tidak.
Kali ini, apakah aku masih boleh bercerita?
Apakah aku masih dapat tempat untuk didengarkan?
Apakah kau percaya bahwa dia itu adalah aku?
Jawabannya, tentu saja, tidak.
Karena kau tak ingat, kau pun lupa, kau bahkan tak tahu.
Jadi, bagaimana jika aku bertanya apakah aku boleh pergi? Aku harap jawabanmu tetap tidak, karena dengan senang hati aku akan bertahan di sini. Lagi.
Kali ini aku juga akan bercerita, mengenai seseorang yang merawat rasa untukmu sendirian. Dia merangkai simfoni rindu setiap siang, untuk mengalahkan nada sumbang hampanya hari. Dan tawamu, adalah nyanyian terindah yang pernah didengarnya, tak bisa ia hentikan karena terus terngiang pada relungnya. Apakah kau mengetahui? Sepertinya tidak.
Kali ini pun aku akan bercerita, mengenai seseorang yang memelihara asa padamu dalam kelam. Dia menyatukan kepingan angan setiap malam, untuk menerangi tiap sudut kisah yang olehmu tak pernah terfikirkan. Dan tatapmu, adalah refleksi terbaik dari sebuah harapan, tak pernah ia lupa akan rasa dari dua bola teduh yang menyamankan. Apakah kau memahami? Aku rasa tidak.
Kali ini, apakah aku masih boleh bercerita?
Apakah aku masih dapat tempat untuk didengarkan?
Apakah kau percaya bahwa dia itu adalah aku?
Jawabannya, tentu saja, tidak.
Karena kau tak ingat, kau pun lupa, kau bahkan tak tahu.
Jadi, bagaimana jika aku bertanya apakah aku boleh pergi? Aku harap jawabanmu tetap tidak, karena dengan senang hati aku akan bertahan di sini. Lagi.

Komentar
Posting Komentar