Langsung ke konten utama

Kelak, Someday... (tahapa)


Kelak, saat kau jauh dari rumah. Kau akan rindu suara cempreng ibu yang mengomelimu yang telat makan. Kau akan rindu petuah dan marah ayah saat kau lalai beribadah. Kau akan rindu suasana rumah yang tak pernah kau temukan di mana pun kau berada. Kau akan merindukan segalanya; adegan-adegan sedari kecil hingga kau tumbuh sampai pada tahap ini di sana.
Waktu dan perasaan sudah dewasa mungkin akan membuatmu merasa hebat. Hidup dan perjalanan yang kau tempuh akan membuatmu merasa kuat. Tapi rindu orangtua mana yang bisa kau dapatkan di mata orang lain? Sedih orangtua mana yang bisa kau rasakan di pelukan orang lain? Tak ada satu tetes air pun yang persis sama dengan air yang dipanaskan ibu; meski dengan tungku api, meski dengan membakar daun kering. Asap-asap itu telah menjelma larut dalam darahmu.

Kelak, saat semua perjalanan terasa semakin jauh. Saat tahap jenjang yang kau tempuh terasa semakin tinggi. Kau akan dihampiri perasaan aneh; kau merasa kau bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa. Kau hanya ingin satu hal, menenangkan debar dadamu, menenangkan hampa pikiranmu, lalu menyandarkan diri di pelukan ibu sembari mendengar nasihat yang sudah berulang-ulang disampaikan ayahmu.

Jangan lupa berkabar meski jauh. Sebab rindu yang sama bisa tak datang di lain waktu dengan cara yang utuh. ðŸ˜‚😂😂😂 (-boycandra)








Komentar

Postingan populer dari blog ini

ITB dan Sebagian Diri yang Terakui (Repost)

Ini tulisan kak  Nur Novilina , hehehe :v izin repost ya kak di blog aku :v Aku kalo lagi gk semangat baca tulisan ini, sangat memotivasi loh.. Ayo dibaca juga ya readers sampai habis.  Ingat! sampai habis Beberapa hari yang lalu temen baik gue, sahabat gue, si Dinul nge-chat gue “Eh boy gue kangen deh sama tulisan-tulisan cangak lu, jadi kemarin gue baca-baca lagi, parah kocak banget. Nulis lagi dong lu buruan”  That’s words really heal me from every stress that I got in my life . Sekalipun kadang gue merasa dengan banyaknya permintaan menulis hal konyol gue punya side job jadi sulap badut.  Sebenernya gue udah lama pengen nulis hal-hal konyol lagi tapi gue takut ga puas sama hasilnya jadi ketunda mulu sampai kemarin gue baca kata-kata bagus banget dari redaktur eksekutif majalah Tempo, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah dituliskan”  so, let try to show your imperfection ! Tulisan kali ini gue mau cerita tentang kehidupan baru ...

Kali Ini

Kali ini aku akan bercerita, mengenai seseorang yang memperjuangkanmu dalam diam. Dia menerbitkan cahaya rindu setiap pagi, untuk memastikan tak ada sisi yang termakan oleh gelapnya sepi. Dan senyummu, adalah penggerak romansa hatinya, tanpa perlu tambahan kafein untuk meningkatkan detak pada tiap detiknya.  Apakah kau menyadari? Aku yakin tidak. Kali ini aku juga akan bercerita, mengenai seseorang yang merawat rasa untukmu sendirian. Dia merangkai simfoni rindu setiap siang, untuk mengalahkan nada sumbang hampanya hari. Dan tawamu, adalah nyanyian terindah yang pernah didengarnya, tak bisa ia hentikan karena terus terngiang pada relungnya.  Apakah kau mengetahui? Sepertinya tidak. Kali ini pun aku akan bercerita, mengenai seseorang yang memelihara asa padamu dalam kelam. Dia menyatukan kepingan angan setiap malam, untuk menerangi tiap sudut kisah yang olehmu tak pernah terfikirkan. Dan tatapmu, adalah refleksi terbaik dari sebuah harapan, tak pernah ia lupa akan rasa dari ...

See You When I See You

Sedikit ku ingat wajahmu yang semakin hari semakin menghilang. Rekaman suaramu pun seperti hanya tinggal kenangan.  Meski begitu, namamu selalu mengganggu pikiranku di saat malam. Kadang hati ini memaksaku melihat sosial mediamu.  Entahlah, aku bingung bagaimana caranya mengobati rasa rindu. Rasa rindu yang sebenarnya tak memiliki tempat untuk bersandar. Jujur, aku sangat merindukanmu. Kerinduan ini bahkan telah memaksaku untuk mencari tahu tentangmu.  Dan selalu saja bayangmu menghantuiku, memori yang terekam dalam otakku, memberikan tanda bahwa kamu memiliki ruang yang sangat spesial di hatiku.  Meski batinku menolak. Tapi bayangmu selalu saja seperti mengiyakan kerinduanku yang teramat dalam kepadamu. Aku tidak memiliki keberanian untuk sekedar menyapamu dari kejauhan.  Namun aku tahu diri, tentang dimana posisiku saat ini. Mungkin, memang tak ada lagi namaku dalam hatimu.  Aku juga sangat menyadari, kita bukanlah kita yang dulu. Masa itu sudah terle...