Langsung ke konten utama

Silakan marah. Kamu manusia. Aku pun juga.


"poni"

Silakan marah. Kamu manusia. Aku pun juga. Kamu punya perasaan.  Aku pun juga.  Kamu bisa sedih.  Sama. Hidup tidak semudah kalimat-kalimat bijak. Tapi kalimat-kalimat bijak bisa dijadikan penguat jalan hidup. Hidup tidak semudah omongan orang lain. Tapi omongan orang lain bisa dijadikan pelecut diri. Hari-hari akan terus berjalan. Tidak ada jaminan semua akan manis saja. Kehidupan nyata tak seperti gambaran pasangan mana pun di media sosial. Perjalanan dan orang-orang tahu, kita tidak membagi semuanya kepada mereka. Ambil yang baik, abaikan yang buruk. Tidak semua harus diterima, meski boleh didengar semuanya. Semua hal akan berubah nantinya.  Aku akan tua dan malas menulis hal yang cinta-cintaan lagi.  Mungkin akan berguru hal lain.  Entah. Di perjalanan yang masih jauh ini, atau mungkin sudah dekat: aku ingin kau dan aku saling menerima kita yang lemah, bukan kita yang indah saja.  Kita yang kurang, bukan kita yang menang saja.  Kita manusia.  Kisah ini kisah manusia.  Kita biasa saja.  Kisah ini perjalanan sepasang hati milik manusia biasa saja. Jangan menuntutku menjadi langit, tuntunlah aku menemukan jalan menuju langit. (–boycandra)


At this time, I know,
no, no one
no one wants to be with memy friendsfamilylet alonemy own selfi'm not hurtnot fineneitheri'm living up





Anime girl

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ITB dan Sebagian Diri yang Terakui (Repost)

Ini tulisan kak  Nur Novilina , hehehe :v izin repost ya kak di blog aku :v Aku kalo lagi gk semangat baca tulisan ini, sangat memotivasi loh.. Ayo dibaca juga ya readers sampai habis.  Ingat! sampai habis Beberapa hari yang lalu temen baik gue, sahabat gue, si Dinul nge-chat gue “Eh boy gue kangen deh sama tulisan-tulisan cangak lu, jadi kemarin gue baca-baca lagi, parah kocak banget. Nulis lagi dong lu buruan”  That’s words really heal me from every stress that I got in my life . Sekalipun kadang gue merasa dengan banyaknya permintaan menulis hal konyol gue punya side job jadi sulap badut.  Sebenernya gue udah lama pengen nulis hal-hal konyol lagi tapi gue takut ga puas sama hasilnya jadi ketunda mulu sampai kemarin gue baca kata-kata bagus banget dari redaktur eksekutif majalah Tempo, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah dituliskan”  so, let try to show your imperfection ! Tulisan kali ini gue mau cerita tentang kehidupan baru ...

Kali Ini

Kali ini aku akan bercerita, mengenai seseorang yang memperjuangkanmu dalam diam. Dia menerbitkan cahaya rindu setiap pagi, untuk memastikan tak ada sisi yang termakan oleh gelapnya sepi. Dan senyummu, adalah penggerak romansa hatinya, tanpa perlu tambahan kafein untuk meningkatkan detak pada tiap detiknya.  Apakah kau menyadari? Aku yakin tidak. Kali ini aku juga akan bercerita, mengenai seseorang yang merawat rasa untukmu sendirian. Dia merangkai simfoni rindu setiap siang, untuk mengalahkan nada sumbang hampanya hari. Dan tawamu, adalah nyanyian terindah yang pernah didengarnya, tak bisa ia hentikan karena terus terngiang pada relungnya.  Apakah kau mengetahui? Sepertinya tidak. Kali ini pun aku akan bercerita, mengenai seseorang yang memelihara asa padamu dalam kelam. Dia menyatukan kepingan angan setiap malam, untuk menerangi tiap sudut kisah yang olehmu tak pernah terfikirkan. Dan tatapmu, adalah refleksi terbaik dari sebuah harapan, tak pernah ia lupa akan rasa dari ...

See You When I See You

Sedikit ku ingat wajahmu yang semakin hari semakin menghilang. Rekaman suaramu pun seperti hanya tinggal kenangan.  Meski begitu, namamu selalu mengganggu pikiranku di saat malam. Kadang hati ini memaksaku melihat sosial mediamu.  Entahlah, aku bingung bagaimana caranya mengobati rasa rindu. Rasa rindu yang sebenarnya tak memiliki tempat untuk bersandar. Jujur, aku sangat merindukanmu. Kerinduan ini bahkan telah memaksaku untuk mencari tahu tentangmu.  Dan selalu saja bayangmu menghantuiku, memori yang terekam dalam otakku, memberikan tanda bahwa kamu memiliki ruang yang sangat spesial di hatiku.  Meski batinku menolak. Tapi bayangmu selalu saja seperti mengiyakan kerinduanku yang teramat dalam kepadamu. Aku tidak memiliki keberanian untuk sekedar menyapamu dari kejauhan.  Namun aku tahu diri, tentang dimana posisiku saat ini. Mungkin, memang tak ada lagi namaku dalam hatimu.  Aku juga sangat menyadari, kita bukanlah kita yang dulu. Masa itu sudah terle...